Wow, Pangdam III Siliwangi Tentara yang Puitis

Wow, Pangdam III Siliwangi Tentara yang Puitis
Wow, Pangdam III Siliwangi Tentara yang Puitis

Wejangan Dr. Aqua Dwipayana

Berikut Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 3 April 2018 pukul 16.12, ” Wow, Pangdam III Siliwangi Tentara yang Puitis ” melalui WAG KOMPASS – Nusantara (WhatsApp Group Komunitas Para Sales Super – Nusantara).

Dr. Aqua Dwipayana, Kompasser Yogyakarta, Motivator Nasional, Konsultan Komunikasi, Pengamat Militer dan Kepolisian RI, dan Penulis buku Best Seller “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi”.

Wow, Pangdam III Siliwangi Tentara yang Puitis

Oleh Djoko Heru Setiyawan

Membaca tulisan Pangdam III/ Siliwangi
Mayjen TNI Besar Harto Karyawan (BHK) berjudul;
Tingkatkan Kemampuan Membaca Anak Bangsa, terkesan beliau adalah tentara yang sangat puitis. Saya jadi teringat saat ngaji Al Qur’an di sebuah langgar di Bojonegoro, Jatim era 80-an. Persisnya pada ayat Iqra’ (bacalah).

Juga tergiang saat jadi mahasiswa baru di Stikosa AWS, Surabaya, 1995-an (lulus SMAN 1 Sumberrejo, Bojonegoro ’91, kerja di Jakarta dan Bandung dulu, baru ingat kuliah ’95), saat mata kuliah (Pengantar) Ilmu Komunikasi. Bolak-balik diajari kalau komunikasi itu Pesan dari komunikator sampai dan dimengerti komunikan. Masih ada embel2 tanpa noise alias gangguan.
Jadi, kalau pesan komunikator tak dimengerti komunikan, maka gagallah apa yang disebut komunikasi.

Kembali ke tulisan Pangdam III/Siliwangi. Soal membaca, tentu tak sekadar melafalkan rangkaian kata demi kata dalam naskah, namun juga wajib mengerti maknanya. Sehingga, terjadilah yang namanya komunikasi, secara hakiki.

Dengan demikian, kian membuat strategi sesuai SWOT. Atau beliau menyebutnya menganalisis.

Sampai di sini; saya tarik kesimpulan; dengan rajin membaca, tentu Kita berpeluang pandai berkomunikasi.

Membaca tak sebatas mengeja naskah demi naskah, tapi juga mengurai arti naskah. Berikut menguraikan menjadi; ilmu yang maha luas. Dicontohkan beliau, dengan memahami pohon kelapa, bambu, dan lingkungan.
Atau seperti firman ALLAH SWT yang diwahyukan ke Rasulullah Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, sekitar 1.500 tahun lalu. Contoh saja; dalam surat Yaasin. Di situ, kalau dengan gamblang kita diajari tentang tata surya, dll.

Membaca itu juga identik dengan ngaji. “Membaca Al Qur’an atau ngaji itu tidak sekadar menghafal, tapi pahami maknanya. Praktikkan dalam kehidupan sehari-hari!,” demikian pesan seorang ustadz.

Seperti ditulis Pangdam III/Siliwangi tersebut, saat membaca pohon kelapa, kita dituntut total membacanya. Sehingga akan paham segala turunan-turunannya dari pohon kelapa. Disebut; dari akar hingga ujung daunnya.

Khawatir Anak Anti Sosial

Kaitannya dengan anak bangsa Kita, memang tak mudah mendorongnya untuk membaca. Sebagai orangtua; kami kadang kasihan melihat anak pulang sekolah dengan beban PR yang begitu banyak (dua anak kami masih SD). Namun, kami menyadari; kalau tanpa PR juga justru lebih kasihan anak2 kami. Sebab, kapan lagi mereka punya tambahan waktu untuk membaca lebih banyak lagi.

Justru yang kami prihatin adalah regulasi tentang LKS dijual di sekolah. Ini dilema, saat tak ada LKS, kesempatan membaca dan menambah ilmu berkurang.
Mungkin regulasi larangan LKS dijual di sekolah dasarnya, biar oknum guru tak berbisnis LKS. Sebab, memang ada yang demikian.

Kembali ke membaca dan menganalisa; apalagi di zaman now. Khususnya membaca fenomena era digital dan medsos. Memang Kita dituntut hidup sesuai zaman Kita hidup. Sehingga, bisa up date segala hal. Dan, pekerjaan Kita menjadi mudah memang, dengan hadirnya era digital.

Mau membaca apa saja; tinggal klik google, 99 persen yang ingin Kita baca, terjawab.
Namun, saat membaca dampak sosial dari digitalisasi zaman now, ada yang memprihatinkan. Khawatir anak2 Kita nanti anti sosial. Misalnya; di ujung gang; ada sekumpulan anak berkumpul di taman atau pos kamling. Mereka duduk berjajar, berhimpitan, namun perhatian mereka masing-masing tertuju pada layar smartphone masing-masing.

Dari fenomena ini, sebagai orangtua; kami membacanya sebagai bahaya. Makanya, menganalisanya dan mengatur strategi membatasi anak2 membaca smartphone. Khususnya yang tersambung internet.
Juga selalu berusaha mengingatkan kalau pingin buka internet harus didampingi orangtua.

Mohon maaf bila ada kurang lebihnya. Ini tanggapan juga uneg2 kami sebagai orangtua dalam membaca dan menganalisa perkembangan zaman. Juga demi anak2 kami yang akan menjadi generasi penerus bangsa.
Sebab, kami sangat khawatir anak2 kami tak pandai membaca dan menganalisa yang mereka alami, dengan ilmu SWOT, sehingga terjerumus ikut2an jadi generasi penghujat seperti dalam berbagai komentar negatif di medsos.

Salam,

Selasa, 3 April 2018
Ayung Resort D/9 Sibangkaja, Badung, Bali.

Penulis adalah redaktur harian Jawa Pos Radar Bali.

Baca juga: Tingkatkan Kemampuan Membaca Anak Bangsa

The Power of SILATURAHIM!

by KOMPASS Nusantara

One thought on “Wow, Pangdam III Siliwangi Tentara yang Puitis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call Now Button

1000 Narasumber KONUS! CALL/WA 08557772226 (Idham Azhari)

X