WIN-WIN Negotiation

WIN-WIN Negotiation
WIN-WIN Negotiation

PENCERAHAN KOMPASSER

Berikut PENCERAHAN Norman Firmasyah tanggal 8 Februari 2018, ” WIN-WIN Negotiation ” melalui WAG KOMPASS – Nusantara (WhatsApp Group Komunitas Para Sales Super – Nusantara).

WIN-WIN Negotiation

Penyampaian Norman Firmansyah 23 Februari 2018 melalui WAG KOMPASS
Penyampaian Norman Firmansyah 23 Februari 2018 melalui WAG KOMPASS

Dalam negosiasi, kita tentu sering mendengar didengung-dengungkan perlunya terjadi win-win. Kenyataannya, ketika 2 pihak bertemu untuk melakukan negosiasi, ke2nya tentu ingin mendapatkan yang terbaik bagi dirinya sendiri. Lalu bagaimaina caranya supaya terjadi win-win ?

Beberapa waktu lalu saya ingin menyewakan rumah saya yang berlokasi di daerah Pasar Kemis, Tangerang dengan harga Rp. 24 juta untuk 1 tahun. Saya mengiklankan di beberapa online marketplace dan mendapat beberapa respons. Salah satu dari mereka terlihat cukup tertarik dan terkesan butuh cepat. Setelah beberapa kali berkomunikasi saya mengetahui si penyewa butuh cepat karena  ia sudah harus pindah dalam beberapa hari tetapi ia hanya mampu untuk membayar uang sewa per bulan (Rp. 2 juta) selama 3 bulan pertama, setelah itu ia akan bayar per bulannya untuk 3 bulan ke depan (Rp. 6 juta). Saya menolak karena rumah saya masih harus diperbaiki dan tidak siap untuk beberapa hari ke depan. Karena dia sudah harus pindah dalam beberapa hari, saya bermaksud membantunya dengan menginformasikan kebutuhannya ke wa group para pemilik rumah di kompleks saya.

Respon yang saya dapat dari teman-teman di group wa cukup beragam : ada yang bilang harga saya itu kemurahan. Ada yang bilang harus dilarang untuk memaku, menempel, mencoret. Ada yang bilang tidak boleh digunakan untuk tempat usaha. Ada yang bilang tidak boleh digunakan untuk ternak hewan. Ada yang bilang harus ada dana ditahan untuk memperbaiki semua yang rusak dan kalau ada tunggakan2 (listrik, air, dll).

Kalau saya menginginkan semua yang dikatakan oleh teman-teman saya di wa group, dalam negosiasi sering disebut sebagai Selller MDO (Most Desirable Outcome), hal yang diinginkan oleh penjual. Yang perlu diingat, penyewa/pembeli pun memiliki MDO, yang seringkali merupakan kebalikan dari yang diinginkan oleh penjual, misalkan : harga semurah mungkin, bebas melakukan apa saja, tidak ada uang ditahan, tidak ada penalty, dsb. Kalau ke2 belah pihak hanya mau MDOnya masing-masing, maka sulit terjadi deal/agreement karena tidak ada ZOPA (Zone of Possible Aggrement).

Tetapi kalau ke 2 belah pihak mau menentukan tidak hanya MDO tetapi juga LAA (Least Acceptable Agreement) atau titik terendah yang masih bisa ditolerir, maka besar kemungkinan akan terjadi ZOPA.

MDO dan LAA ini bisa dibuat, jika kedua belah pihak memiliki alternatif. Balik kembali ke kasus penyewaan rumah, pemilik rumah perlu melihat hal-hal apa saja yang paling penting buat dirinya dan hal-hal apa saja yang tidak terlalu penting. Misalkan : harga tidak bisa ditawar lagi, tetapi untuk uang ditahan, mungkin bisa dikurangi. Rumah dipakai untuk usaha tidak bisa ditawar sedangkan memaku, menempel masih diperbolehkan. Dengan menentukan di awal sebelum negosiasi dimulai, hal-hal apa yang penting yang harus saya dapatkan dan hal-hal apa saja yang mungkin bisa saya berikan kepada pihak lain, maka kemungkinan terjadinya deal/agreement akan lebih besar.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam negosiasi adalah pemahaman tentang situasi. Contoh situasi dalam kasus penyewaan rumah : apakah demand>supply atau sebaliknya. Ketika demand > supply, maka penjual/pemilik rumah akan berada di dalam posisi yang lebih diuntungkan. Tetapi kalau supply>demand, berarti penyewa yang akan lebih diuntungkan. Untuk itu pemilik harus benar-benar menentukan hal-hal apa saja yang dia bisa berikan ke penyewa dan mana yang harus ia dapatkan.

Contoh lain dari pemahaman situasi dalam kasus penyewaan rumah : penyewa dari suatu rumah biasanya adalah mereka yang bekerja atau berusaha tidak jauh dari rumah tempat mereka menyewa. Kalau di sekitar perumahan belum terlalu berkembang, belum banyak perkantoran, belum terlalu ramai, maka mereka yang akan menyewa kemungkinan besar memiliki daya beli yang tidak terlalu besar. Hal ini juga penting dalam menentukan MDO dan LAA.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat.

Salam,
Norman Firmansyah

Baca juga: Renungan Kehidupan Kamis 8 Februari 2018

Negotiation Skills!

by KOMPASS – Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call Now Button

1000 Narasumber KONUS! CALL/WA 08557772226 (Idham Azhari)

X