Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 1 Agustus 2017

Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 1 Agustus 2017
Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 1 Agustus 2017

Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 1 Agustus 2017

Berikut Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 1 Agustus 2017 pukul 02.22 melalui WAG KOMPASS (WhatsApp Group Komunitas Para Sales Sumenep).

Dr. Aqua Dwipayana, Motivator Nasional, Konsultan Komunikasi, Pengamat Militer dan Kepolisian RI, dan Penulis buku Best Seller “The Power of Silaturahim”.

SANG PEMBELAJAR SEJATI

Saya mengetahui nama Mas Aqua Dwipayana  dari Grup WA Nawas (Nawak Lawas) yang beranggotakan mantan karyawan Harian Umum Suara Indonesia (ketika itu milik grup Sinar Kasih penerbit HU Sinar Harapan dan Walikota Malang, Sugijono). Kalau Mas Aqua berprofesi sebagai wartawan dalam kurun waktu 1988-1990, saya sendiri, Asmororini – nama panggilan Cunung – bagian iklan di awal HU Suara Indonesia terbit di Malang 1980-1983. Setelah itu saya pindah kerja ke perusahaan penerbitan buku Pustaka Sinar Harapan Perwakilan Jatim – yang masih satu Grup dengan HU Sinar Harapan/Suara Pembaruan – sampai pensiun tahun 2013. Secara perkenalan atau pertemanan antara saya dan Mas Aqua jelas tidak nyambung, bukan saja karena berbeda masa kerja tapi juga bertemupun tidak pernah. Bisa dikatakan hanya sekedar tahu nama berkat media sosial WA.

Di Grup WA Nawas, Mas Aqua sering sharing tentang silaturahim yang setiap saya baca, selalu berakhir dengan pertanyaan dalam kepala “Masa sih di jaman ini masih ada manusia yang merawat pertemanan dengan kekuatan silahturahimnya?” Dan pertanyaan saya sedikit terjawab ketika saya dan suami saya, Djoko Pranoto, juga mantan karyawan HU Suara Indonesia bagian Sirkulasi 1980-1982, kemudian pindah ke PLN, menghadiri acara syukuran sepulang Umroh mbak Ira dan Pak Widodo – yang konon diberangkatkan Mas Aqua –  di rumah makan Ringin Asri Malang beberapa bulan lalu.

Di acara itu saya melihat teman-teman Nawas dalam kegembiraan. Ketika saya dan suami berkesempatan duduk di depan Mas Aqua, suami saya berkomentar, “Coba lihat Mas, wajah-wajah gembira terpancar dari wajah teman-teman. Dan itu semua berkat kebaikan Mas Aqua”.

“Saya yang paling senang melihat kawan-kawan senang”, jawab Mas Aqua secara spontan.

PASANGAN LANGKA

Saya sempat terkejut mendengar jawaban Mas Aqua. “Wah saya bertemu dengan satu manusia langka”, pikir saya.  Ketika saya beramah-tamah dengan Mbak Retno, istri Mas Aqua yang ketika itu juga hadir. “Ternyata nemu lagi satu manusia langka”, kata benak saya. Bagaimana tidak langka, di jaman ini loh, begitu banyak manusia berlomba-lomba menumpuk harta untuk diri sendiri, ini kok ada sepasang suami-istri  yang malah dengan entengnya mengeluarkan biaya – perkiraan saya jumlahnya miliaran rupiah untuk membiayai puluhan orang umrah -demi menyenangkan banyak orang, tanpa pretensi.

Berlanjut dengan undangan Mas Aqua  sekeluarga kepada Grup Nawas untuk jalan-jalan ke Yogya, yang semua pembiayaannya ditanggung sepenuhnya oleh Mas Aqua sekeluarga. Saya dan suami berangkat ikut rombongan dari Malang naik bus. Usia peserta yang rata-rata sudah paruh baya tidak menyurutkan kegembiraan dalam perjalanan. Kecuali kudapan yang telah disediakan Mas Aqua, teman-teman lain bergantian membagikan camilan. Canda, tawa dan nyanyi meriuhkan perjalanan kami.

Selama di Yogya semua fasilitas sudah tersedia. Penginapan untuk 80 orang diatur sedemikian rupa sehingga memberikan kenyamanan. Tur ke Prambanan dan Pantai Parang Tritis sangat menyenangkan. Soal makanan, sangat melimpah. Di rumah makan para tamu diberikan kebebasan memesan sesuai keinginan. Ini luar biasa. Semua tamu betul-betul dijamu.

Yang membuat saya takjub adalah istri Mas Aqua, Mbak Retno dan anandanya Ero. Setahu saya tahu, Mbak Retno masih berkarya di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jakarta. Mbak Retno khusus ke Yogya untuk mengatur langsung semua kebutuhan para tamunya. Melayani dan menemani tamu-tamu dengan sepenuh hati, bisa jadi mengabaikan semua rasa lelahnya. Sosok perempuan dan istri yang patut dijadikan panutan. Sementara jejaka mereka Ero, begitu telaten dan sabar meladeni para tamu. Totalitas Ero terasa sekali. Jelas sekali Ero menyerap dengan baik keteladanan kedua orangtuanya.

TERPELAJAR DAN TERDIDIK

Setelah membaca buku The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi dan bertemu langsung dengan Mas Aqua, Mbak Retno dan ananda Ero, saya melihat sekaligus merasakan bahwa mereka sekeluarga adalah ayat-ayat tentang kebaikan dalam kitab-kitab samawi yang sungguh hidup. Keramahan dan ketulusan yang terpancar dari wajah yang selalu tersenyum – menyembunyikan kelelahan – membuat nyaman orang-orang yang bertemu dengan mereka. Hormat saya khusus untuk Mbak Retno dan ananda Ero  yang terlibat penuh dalam menyambut seluruh tamu-tamu sang kepala keluarga, Mas Aqua.

Dalam pandangan saya, Mas Aqua adalah sosok pembelajar sejati. Tak lelah belajar tentang makna  hidup dan kehidupan dari kekuatan silahturahimnya, dan tetap tekun mendidik diri sendiri dan keluarganya untuk selalu tawadhu menghayati ayat-ayat tentang kebaikan dalam perilakunya, antara lain tidak berhitung ketika membagikan rejekinya kepada yang lain, tidak membedakan strata sosial dalam pergaulan. Terpelajar dan terdidik berjalan seiring, paduan yang sulit dilakukan banyak orang.

Pertanyaan saya terpuaskan, bahwa memang masih ada seseorang yang demikian telaten secara konsisten merawat pertemanan dengan menjalin silahturahim ke banyak orang. Aktivitas tersebut dilakukan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan Terbukti bahwa silahturahim mempunyai kekuatan yang tidak kasat mata bagi kehidupan. Ini virus kebaikan yang perlu ditularkan.

Tentang makna “rejeki”, bagi saya pribadi,  rejeki yang sebenar-benar rejeki adalah ketika bisa “memberi” kepada yang lain. Dan sungguh besar karunia rejeki dari Dzat Penggegam Segala Hasrat kepada Mas Aqua beserta keluarga.

Kebahagiaan yang didapat dengan membahagiakan orang lain, rasanya bukan slogan belaka. Itu saya temui dalam sosok Aqua Dwipayana, Mbak Retno dan ananda Ero. Dalam piwulang Jawa “memayu hayuning bhawana” atau memelihara keindahan semesta dengan memanusiakan manusia. Keteladanan yang sungguh nyata. Meski sulit ditiru, tapi memungkinkan untuk dilakukan. Terima kasih untuk Mas Aqua sekeluarga.???

Baca juga: Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 31 Juli 2017 15.00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Call Now Button