Ustadz Muda yang Disukai Jamaah POS II

Ustadz Muda yang Disukai Jamaah POS II
Ustadz Muda yang Disukai Jamaah POS II

Wejangan Dr. Aqua Dwipayana

Berikut Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 30 April 2018 pukul 20.06, ” Ustadz Muda yang Disukai Jamaah POS II ” melalui WAG KOMPASS – Nusantara (WhatsApp Group Komunitas Para Sales Super – Nusantara).

Dr. Aqua Dwipayana, Kompasser Yogyakarta, Motivator Nasional, Konsultan Komunikasi, Pengamat Militer dan Kepolisian RI, dan Penulis buku Best Seller “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi”.

Ustadz Muda yang Disukai Jamaah POS II

Serial (21) Umroh The Power of Silaturahim
Ustadz Muda yang Disukai Jamaah POS II
Oleh: Slamet Oerip Prihadi

Ustadz Hanif, 23 tahun, adalah muthowif (pembimbing) Jamaah Umroh The Power of Silaturahim (POS) II di Madinah. Ustadz muda ini masih kuliah di Universitas Madinah, semester 7 Fakultas Syari’ah. “Insya ALLAH tahun depan saya lulus,” katanya.

Masih muda, tapi penguasaan ilmu agamanya luas dan tidak dogmatis. Saat meyampaikan materi, dia tidak terkesan menggurui, dan selalu berupaya menjelaskannya secara logis dan dengan nalar (logika).

Sabar mendengar dan menjawab setiap pertanyaan dari anggota Jamaah Umroh POS II.
“Tidak selamanya Nash (sumber pendalilan: Al-Qur’an dan Hadits) bisa dinalar. Nah, ketika ada yang akal manusia belum sampai, kita terima dulu dengan rasa iman. Tapi, kita yakin suatu saat akan bisa dijelaskan secara ilmiah,” terangnya.
Inilah yang menyebabkan para anggota POS II nge-fans kepadanya.

Tapi ada yang dirahasiakan pada dirinya. Yaitu ketika ditanya siapa nama lengkapnya, Ustadz Hanif selalu mengelak seraya mengacungkan telunjuk kanannya di depan bibirnya. Maksudnya kira-kira: “Jangan ditanyakan masalah itu. Panggil saya dengan nama Hanif saja.”

Tapi karena semua anggota POS II suka kepada Ustadz Hanif yang ganteng itu, pemrakarsa dan penyandang dana POS II, Pak Aqua Dwipayana, menugasi saya menulis tentang sosok Ustadz Hanif.

Maka, Sabtu 21 April 2018 jelang Magrib, Ustadz Hanif menyediakan waktu untuk saya wawancarai. Tempatnya di samping Perpustakaan Masjid Nabawi, Madinah. Tepatnya di halaman Masjid yang dihampari banyak sajadah untuk sholat berjamaah di Masjid Nabawi.

Tempatnya enak sekali untuk wawancara karena tidak ada orang lalu lalang. Di belakang tertutup dinding setinggi sekitar 1,5 meter.

Kembali saya tanyakan, siapa nama lengkapnya.
“Wah, sebetulnya cukup Hanif saja. Tapi karena Bapak memerlukan nama lengkap ana untuk menulis, saya tuliskan,” kata Ustadz Hanif seraya minta notes dan ballpoint yang saya bawa.

Beliau menuliskan sendiri nama lengkapnya agar tidak salah tulis huruf atau ejaannya. JONI EFENDI LAODE “HANIF ABDULLAH.”
“Inilah nama lengkap saya. Laode adalah nama kaum bangsawan di Sulawesi Tenggara. Tapi, panggil ana cukup dengan Hanif saja,” jelasnya.

Bapaknya bernama Hanif Abdullah, ibunya bernama Mawarni. Ustadz Hanif adalah putra kedua dari dua bersaudara. Kakaknya wanita bernama Lina dan sudah berumah tangga di Balikpapan. Jadi ayah dan ibunya berasal dari Sulawesi Tenggara, tapi menetapnya di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Bagaimana ceritanya Ustadz Hanif sampai bisa kuliah di Fakultas Syariah Universitas Madinah?

Bukan Lulusan Pondok Pesantren

Ustadz Hanif ternyata tidak pernah menjadi santri di Ponpes (Pondok Pesantren) mana pun. Beliau mendalami ilmu agama sejak duduk di bangku SMA.

“Alhamdulillah, kedua orangtua membebaskan pilihan hidup bagi saya. Bahkan beliau berdua mendorong saya untuk menekuni pilihan studi yang saya sukai,” terangnya.

Ayahnya bukan seorang ustadz atau seorang ulama. Ayahnya hidup wiraswasta sebagai pekerja bangunan.

“Kehidupan keluarga ayah tidak miskin, tapi juga tidak kaya,” kata Hanif.

Setelah lulus SMA, satu tahun Hanif belajar di STIBA (Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab) di Makassar, Sulawesi Selatan. Namun, penguasaan bahasa Arabnya belum maksimum. Sebagian besar dosen STIBA lulusan Universitas Madinah. Itulah sebabnya Hanif muda tertarik untuk studi di sana.

Sampai datang pengumuman di kampus STIBA bahwa Universitas Madinah membuka pendaftaran bagi anak-anak Indonesia pada 2013. “Ribuan yang mendaftar, tapi yang lulus hanya 104 orang. Saya termasuk dalam 104 orang ini yang berhak mengikuti studi di Universitas Madinah sejak 2014. Di Madinah lah kemampuan bahasa Arab saya makin matang dan fasih,” urai Ustadz Hanif.

Ada 5 fakultas di Universitas Madinah, yaitu Fakultas Hadist Syarif, Fakultas Dakwah wa Ushuluddin, Fakultas Al-Qur’an, Fakultas Bahasa Arab, dan Fakultas Syari’ah.

Mengapa Hanif muda memilih Fakultas Syari’ah? “Syari’ah lebih intens berhubungan dengan publik,” dalihnya.

Kenal Pak Aqua Sejak 2016

Ustadz Hanif mengenal Mas Aqua Dwipayana sejak 2016. “Kami kenal pertama langsung akrab. Entah mengapa, saya juga langsung merasa dekat dengan beliau. Setiap kali Pak Aqua melaksanakan umroh saya selalu diminta jadi muthowif,” kata Hanif. Seperti yang sekarang ini.

Mas Aqua sekeluarga merasa sangat nyaman dibimbing Ustadz Hanif sehingga ke pemilik NRA Tour & Travel Ibu Irmawati Mochtar, Mas Aqua minta agar rombongan jamaah umroh POS II selama di Madinah dibimbing Ustadz Hanif. Alhamdulillah permintaan itu disetujui Irmawati.

Mas Aqua juga mengontak Ustadz Hanif untuk mau jadi pembimbing rombongan jamaah umroh POS II. Alhamdulillah beliau bisa dan berkenan. Jadi klop banget.

“Karena sudah cocok sehingga kalau ke Madinah saya selalu cari Ustadz Hanif. Beliau rendah hati dan asyik diajak diskusi tentang agama. Pengetahuannya cukup luas,” ungkap Mas Aqua.

Ustadz Hanif gayeng dialog dengan wartawan senior Hadiaman Santoso Saleh. Yang lain asyik mendengarkan. Beberapa kali Ustadz Hanif diminta Ketua Rombongan Pak Nurcholis MA Basyari untuk memberikan materi pencerahan kepada Jamaah POS II di halaman Masjid Nabawi. Tepatnya di dekat Toilet 2 dan gate 6.

“Acara seperti ini sebenarnya merupakan hadiah dari Pak Aqua kepada saya. Karena ini termasuk acara ekstra, maka saya diberi honor tambahan oleh beliau. Alhamdulillah,” katanya.

Sebagai mahasiswa Universitas Madinah, Hanif gratis tempat kos dan makan, juga gratis uang kuliah. Kalau libur panjang dibelikan tiket pergi-pulang Arab Saudi – Indonesia. “Tapi buku-buku tidak gratis. Ini yang harus beli. Bonus dari Pak Aqua saya alokasikan untuk beli buku,” kata ustadz muda yang mengaku punya dua teman wanita yang dekat dengannya. Kedua teman wanitanya itu tinggal di Balikpapan.

Apakah kelak Ustadz Hanif akan memilih salah satu dari kedua gadis itu untuk dipersunting? “Saya belum bisa mengatakannya sekarang. Bisa juga saya tidak memilih keduanya,” jawabnya seraya tersenyum lebar.

Insya ALLAH tahun depan Ustadz Hanif sudah manyabet gelar S-1. “Saya ingin melanjutkan studi untuk S-2. Di Universitas Madinah, program S-2 dan S-3 hanya untuk mahasiswa asli Universitas Madinah. Kalau untuk S-1 masih terbuka. Dari SLTA manapun dan dari negara mana saja. Tapi untuk S-2 dan S-3 harus lulusan S-1 Universitas Madinah sendiri.”

Kalau lancar dan dana tersedia, delapan tahun kemudian Ustadz Hanif menyandang gelar Doktor. Itu artinya, di usianya 31 tahun, Insya ALLAH Ustadz Hanif dapat menyadang gelar doktor.

Semoga semua yang Ustadz Hanif dambakan dikabulkan oleh ALLAH SWT. Mudah2an Indonesia kelak memiliki para pemikir muda Islam yang mumpuni dan luas wawasannya. Aamiin YRA.

Penulis adalah wartawan senior anggota Jamaah Umroh POS II, dan salah satu angkatan perintis Jawa Pos, tinggal di Surabaya.

Baca juga: Dahsyatnya Berdoa di Tanah Suci, Berhasil Luluhkan Hati 2 Jenderal dan Lainnya

Demikian Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 30 April 2018, ” Ustadz Muda yang Disukai Jamaah POS II ” melalui WAG KOMPASS. Semoga bermanfaat.

The Power of SILATURAHIM ..
SILATURAHIM Marketing ..
SILATURAHIMER Marketing ..

by KOMPASS Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call Now Button

1000 Narasumber KONUS! CALL/WA 08557772226 (Idham Azhari)

X