SEPENGGAL CERITA PEMBERDAYA UMBI GARUT SUKO TRIYONO ORIFLAKES

"<yoastmark

Pangan Lokal Sukhoy

Berikut artikel PANGAN LOKAL SUKHOY 4 Agustus 2018, ” SEPENGGAL CERITA PEMBERDAYA UMBI GARUT SUKO TRIYONO ORIFLAKES ” melalui WAG KOMPASS – Nusantara (WhatsApp Group Komunitas Para Sales Super – Nusantara).

Suko Triyono (Sukhoy), Kompasser Yogyakarta, salah satu Kompasser yang pernah menjadi Narasumber di dalam acara Metro Tv “BIG CIRCLE”, CEO Serelia Indonesia (Oriflakes).

SEPENGGAL CERITA PEMBERDAYA UMBI GARUT SUKO TRIYONO ORIFLAKES

Penyampaian Suko Triyono Oriflakes 4 Agustus 2018 melalui WAG KOMPASS Nusantara
Penyampaian Suko Triyono Oriflakes 4 Agustus 2018 melalui WAG KOMPASS Nusantara

BISNIS INDONESIA
Oleh :Wike Dita Herlinda

SEPENGGAL CERITA PEMBERDAYA UMBI GARUT

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia adalah salah satu negara dengan beragam hasil bumi yang bisa diolah menjadi bahan pangan potensial. Sayangnya, selama ini masih banyak bahan pangan lokal asli Nusantara yang belum diproses menjadi produk bernilai tambah.

Kebanyakan produk makanan dan minuman populer yang dikenal di pasar modern saat ini terbuat dari bahan baku impor, khususnya gandum. Hal itu membuat miris berbagai kalangan, yang peduli akan visi pemerintah terhadap perwujudan kedaulatan pangan.

Berangkat dari latar belakang itu, saat ini mulai banyak perusahaan nasional yang mengembangkan bisnis makanan olahan dari bahan baku pangan lokal. Selain untuk mempromosikan manfaat pangan lokal, juga membangun perekonomian daerah.

Hal itu salah satunya dilakukan oleh Suko Triyono. Pria asal DI Yogyakarta yang akrab disapai Sukhoy itu mendirikan perusahaan Oriflakes, yang menghasilkan produk sereal dari bahan umbi garut.

Selain memiliki banyak manfaat kesehatan, produk pangan lokal olahannya dikemas dengan citra modern sehingga memikat banyak importir dari Asia Timur, Amerika, dan Eropa.

Lantas, seperti apa geliat usaha berbasis pangan lokal yang dijalankan oleh Sukhoy?
Berikut penjelasannya:

Sejak kapan mulai perusahaan berbasis pangan lokal? Apa alasannya?

Saya mulai usaha sejak 2007. Namun, pada waktu itu inti bisnisnya berganti-ganti hingga delapan kali. Kebetulan saya sendiri adalah lulusan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada [UGM].

Saat saya kuliah dulu, saya pernah membahas tentang umbi garut. Sayangnya, kebanyakan produk olahan umbi garut yang ada hanyalah emping atau keripik. Dari sana, saya coba meneliti apakah umbi garut bisa dijadikan produk sereal.

Sebab, selama ini produk sereal di pasaran hanya berasal dari gandum dan turunannya semua. Padahal semuanya impor. Jadi, saya meneliti bisa tidak sereal disubstitusi oleh umbi supaya ketergantungan terhadap impor gandum bisa teratasi.

Awalnya saya mencoba membuat produk flakes yang cara mengonsumsinya dicampur dengan susu. Namun, saya terus menyempurnakan bahan baku dan produknya, dan melalui uji coba serta tes pasar hingga 50 kali. 150 Kali (tahun 2018)

Semakin lama, kualitas produknya pun semakin sempurna. Konsumen yang punya keluhan penyakit asam lambung dan diabetes memberi respons positif. Hingga akhirya terciptalah produk Oriflakes ini mulai Oktober 2014.

Dari sana, saya mendapatkan respons dari Pemprov Yogyakarta bahwa produk buatan saya ini termasuk ke dalam pangan lokal. Awalnya, saya tidak mengerti apa itu pangan lokal, sebab tujuan saya hanyalah bagaimana membuat pangan alternatif bebas bahan kimia.

Namun, semakin lama saya semakin memahami tentang pangan lokal. Sampai akhirnya produk olahan dari bahan pangan lokal ini menjadi sebuah tren baru yang akan berlanjut ke depannya.
Kebanyakan pangan lokal diolah menjadi produk makanan kesehatan atau bahan makanan nongandum. Seperti umbi garut ini, yang sudah sejak dulu diolah oleh para petani tetapi belum diberdayakan secara besar-besaran.

Mengapa Anda merasa penting untuk mengembangkan pangan lokal?

Karena saya lihat ketergantungan Indonesia terhadap bahan pangan impor semakin tinggi. Saya sadar semua produk sereal dan roti yang ada di pasaran saat ini bahan bakunya tidak kita tanam sendiri. Semuanya impor.
Mulai dari terigu, hingga bahan turunannya, dan olahannya. Padahal, umbi garut bisa dijadikan sebagai substitusi. Jadi, mengapa tidak menggunakan bahan yang tumbuh di Tanah Air sendiri, beli dari petani sendiri, dan membantu perekonomian negeri sendiri?

Apalagi, penanaman umbi-umbian itu tidak mengganggu tanaman lain. Mereka bisa ditanam di bawah naungan pohon jati dan mahoni. Sehingga, ini juga bisa menjadi prospek bisnis yang sangat lebar bagi Perum Perhutani, supaya di bawah pohon-pohon di hutan itu tidak hanya ditumbuhi semak belukar.

Mengapa memilih umbi garut?

Pertama-tama, saya mau meluruskan dulu. Umbi garut itu bukan umbi yang berasal dari [Kota] Garut, tetapi memang nama jenisnya.

Nah, dari semua umbi di Indonesia, yang paling bersahabat dengan pencernaan dan lambung adalah umbi garut. Umbi garut juga jenis umbi yang paling sehat, karena indeks glisemiknya hanya 14.

Sehingga, umbi garut sangat baik bagi penderita diabetes dan menjaga stabilitas gula darah. Coba bandingkan dengan bahan makanan dari gandum yang sangat tinggi kandungan glukosanya sangat tinggi.

Selain itu, umbi garut juga mengandung serat yang tinggi dan jika sudah matang teksturnya sangat lembut. Umbi garut juga memberikan efek dingin di lambung. Sehingga, nilai ekonomis dan manfaatnya sangat tinggi.

Sayangnya, di mata masyarakat, umbi garut masih dianggap kuno. Mereka belum peka terhadap nilai ekonomis dan manfaatnya. Dari sanalah, saya bertekad untuk menghidupkan budidaya umbi garut agar bisa diolah menjadi panganan sehat yang berdaya saing.

Baca juga: Apa yang terjadi jika Anda tidak sarapan

Produksinya sudah dipasarkan ke mana saja?

Awalnya saya memasarkan melalui online, tetapi lama-kelamaan produk ini sudah menguasai minimarket di Yogyakarta. Selain memasarkan lewat online, saya menggunakan jasa agen dan reseller.
Saat ini sudah ada 100 kota yang memiliki reseller produk kami guna menjangkau para konsumen di daerah lain.

Namun, seiring berjalannya waktu saya juga menyadari bahwa sereal umbi garut ini sebenarnya pangsa pasarnya bukan untuk orang Indonesia saja. Sebab, masyarakat Indonesia masih tergantung pada nasi sebagai makanan pokok.

Pangsa pasar potensial juga ada di luar negeri. diantaranya Jepang, Amerika Serikat, Korea, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Kami baru mengukur diri dan memantaskan diri untuk kearah sana sehingga tidak buang-buang waktu, tenaga dan biaya sehingga bisa lebih efektif. Kita harus siap semua untuk menyerap pasar itu. Kita tidak bisa memaksakan diri walaupun sebenarnya sudah ada permintaan dari luar negeri.

Darimana mendapatkan link untuk promosi pangan lokal di luar negeri?

Link-nya dari Pemda Joga. Kami diikutikan pelatihan ekspor-impor. Selain itu juga, saya mendapatkan jejaring dari rekan-rekan eksportir furnitur ke Jepang. Sudah ada perusahaan swalayan di Jepang yang tertarik mendistribusikan produk sereal umbi garut ini.

Bagaimana respons konsumen terhadap produk pangan lokal Anda?

Belum lama ini ada pameran produk lokal di UGM yang diikuti oleh 300 peserta dari 50 negara. Kami berpartisipasi di sana. Dari acara itu, responsnya konsumen asing bagus sekali. Orang Jepang dan Amerika suka karena rasanya netral dan terasa dingin di perut.

Adapun, untuk konsumen lokal, selama ini mereka yang punya masalah maag kronis terus mengonsumsi produk kami. Bagi yang tidak bermasalah dengan kesehatan, biasanya mereka berpikir ulang untuk membeli produk kami.

Sebab, mereka berpikir ‘Sereal saja kokmahal sih?’ Harga satu boksnya Rp35.000, sementara kalau membeli kemasan sachet produk sereal gandum paling mahal Rp5.000. Namun, saya tidak masalah dengan pemikiran mereka, karena toh kami sudah punya segmen pasar sendiri.

Apa kesulitan/tantangan dalam pengolahan dan promosi pangan lokal?

Kendala terberatnya selama ini adalah persoalan pemasaran. Sebab, kami bukan perusahaan raksasa bermodal besar. Kalau perusahaa besar; sekalipun mereka meluncurkan produk kurang berkualitas, tetapi karena pemasarannya kuat, produknya pasti laku.

Sebaliknya, meskipun produknya berkualitas, menggunakan bahan pangan lokal, tetapi kalau tidak punya kapasitas besar, akhirnya iklannya pun jadi apa adanya. Pada awalnya kami sering juga ‘jemput bola’.

Kami sering bergerilya ke acara ibu-ibu PKK, ke kegiatan senam bersama, atau mensponsori acara-acara di kampus. Sebab, belum banyak orang yang mengenal umbi garut. Jadi, itu yang menjadi PR saya.

Selain itu, kendala permodalan. Sebab, kami sama sekali tidak menggunakan bantuan dari bank. Kalau dari segi produksi dan SDM sih tidak ada masalah. Bahkan, kami banyak dibantu oleh kampus-kampus untuk proses produksi dan promosinya.

Apakah ada dukungan dari pemerintah? Seperti apa bentuk dukungannya?

Pertama kali, saya dibina oleh pemkab, sebelum diambil alih oleh Pemprov DIY. Dari sana saya mendapatkan banyak jejaring, dan dikenalkan ke Kementerian Perindustrian, Perdagangan, Perhutanan dan Lingkungan Hidup, Pertanian, dan Kemenpora.

Pemerintah pusat sangat terbuka dengan bisnis pangan lokal ini. Mereka mempermudah proses pembuatan HAKI-nya, selalu mengajak ketika ada pameran dan seminar, serta membantu akses permodalan kami.

Apa ada rencana untuk mengembangkan potensi pangan lokal lain?

Terus terang, saat ini banyak perusahaan berkapital besar dari Jakarta yang tertarik mengakuisisi produk kami ini. Mereka seringkali bertanya, ‘Selain sereal, apalagi produk pangan lokal yang bisa dikembangkan?’

Saya selalu jawab, ‘Sereal ini hanya pintu masuk ke pasar. Kalau sudah berhasil masuk, kita bisa membuat banyak sekali produk turunannya; mulai dari wafer, cracker, bahkan biskuit yang bertema kesehatan.’ Resepya sudah ada, tapi belum diluncurkan. Kami ingin fokus ke produk utama dulu.

Bagaimana strategi agar pangan lokal yang terkesan tradisional bisa bersaing di era modern?

Kuncinya adalah berpikirlah out of the box. Kita harus mengubah mindsetkonsumen. Buatlah produk yang tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya.

Misalnya, produk umbi garut ini. Kalau diolah menjadi keripik atau tepung, itu sudah banyak dan tidak memiliki daya saing tinggi. Namun, ketika diolah menjadi produk pangan ala Eropa, itu akan menjadi sesuatu yang bernilai tambah.

Untuk itu, dibutuhkan edukasi dan promosi besar-besaran soal pangan lokal ini.

26 Januari 2017
21:07 WIB
Editor : Martin Sihombing

Baca juga: Pertemuan Bisnis di Rumah Kreatif Jogja 12 Januari 2018

Demikian artikel PANGAN LOKAL SUKHOY, ” SEPENGGAL CERITA PEMBERDAYA UMBI GARUT SUKO TRIYONO ORIFLAKES ” melalui WAG KOMPASS – Nusantara. Semoga bermanfaat.

ORIFLAKES Indonesia!
SILATURAHIMER Marketing!!
#Sukhoy
#SukoTriyono
#SerealUmbiGarut
#KOMPASSNusantara

Sumber: Artikel “SEPENGGAL CERITA PEMBERDAYA UMBI GARUT SUKO TRIYONO ORIFLAKES” dari Bisnis.com

by KOMPASS – Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call Now Button

1000 Narasumber KONUS! CALL/WA 08557772226 (Idham Azhari)

X