Gaya Hidup yang Sulit Diadopsi

Gaya Hidup yang Sulit Diadopsi
Gaya Hidup yang Sulit Diadopsi

Wejangan Dr. Aqua Dwipayana

Berikut Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 23 Juni 2018, ” Gaya Hidup yang Sulit Diadopsi ” melalui WAG KOMPASS – Nusantara (WhatsApp Group Komunitas Para Sales Super – Nusantara).

Dr. Aqua Dwipayana, Kompasser Yogyakarta, 10 Inspirator KOMPASS – Nusantara, Motivator Nasional, Konsultan Komunikasi, Pengamat Militer dan Kepolisian RI, dan Penulis buku Best Seller “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi”.

Gaya Hidup yang Sulit Diadopsi

Penyampaian Aqua Dwipayana Tokoh SILATURAHIM Indonesia 23 Juni 2018 melalui WAG KOMPASS Nusantara
Penyampaian Aqua Dwipayana Tokoh SILATURAHIM Indonesia 23 Juni 2018 melalui WAG KOMPASS Nusantara

Gaya Hidup yang Sulit Diadopsi
Oleh : Fuad Ariyanto

Assalamualaikum w.w. Bro Aqua. Ini kelanjutan dari obrolan singkat kita via WhatsApp beberapa waktu lalu. Tentang pengalaman batin saya pribadi berkaitan dengan konsep gaya hidup bro Aqua. Jika ada yang kurang berkenan, mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga bermanfaat.

Kosa kata yang sering muncul dalam pitutur Dr Aqua Dwipayana —ceramah atau sharing via WA— antara lain, hati bersih, ikhlas, dan lillahi ta’ala. Kata yang terdengar amat biasa. Namun, sesungguhnya konsep yang mendasari gaya hidup itu sangat amat sulit dipraktikkan dalam kehidupan keseharian. Setidaknya, bagi saya pribadi.

Hati bersih sebagaimana doa Nabi Ibrahim, menurut tafsir Quraisy Shihab adalah hati yang bersih dari kekufuran, kemunafikan, dan riya (pamer). Dari segi hubungan kemanusiaan, hati bersih —mungkin—bisa diartikan berbuat baik tanpa pamrih, berpikir positif, tidak tendensius, tidak berprasangka. Steril dari penyakit hati semisal iri, dengki, takabur, dan sebangsanya.

Seseorang belum bisa dikatakan berhati bersih jika galau melihat orang lain bahagia. Pusing melihat sahabat lebih beruntung daripada diri sendiri. Atau, punya maksud jahat di balik keramahannya yang instan.

Hati bersih umumnya tercermin dari wajah yang sejuk, ramah, banyak senyum, dan punya rasa empati tinggi. Namun, bukan berarti yang bermuka sangar mesti tidak berhati bersih. Sebab, masalah hati tidak gampang dinilai dari penampilan. Kata orang penampilan bisa menipu.

Hati bersih erat kaitannya dengan ikhlas. Pak Ustadz seringkali mengibaratkan ikhlas seperti orang BAB. Dilepas tanpa rasa getun (menyesal) sama sekali seberapapun bobotnya. Ikhlas, rela karena ALLAH SWT, rela berbagi, rela memberi, rela bekerja, juga rela kehilangan.

Lewati Batas Konsep Hati Bersih, Ikhlas, dan Lillahi Ta’ala

Kadang, ketika harus berbagi, kita —utamanya saya pribadi— masih kepikiran jangan-jangan yang kita berikan, nilainya terlalu banyak. Bahkan, mungkin sebaiknya tidak perlu berbagi saja. Tapi, apa kata dunia jika tidak berpartisipasi. Nah, jelas yang sering saya lakukan ternyata berbagi karena faktor manusia. Sungkan, gengsi, takut, dikira tidak solider, dan sebagainya. Tidak lillahi ta’ala.

Guru ngaji di kampung sering mengingatkan agar manusia selalu introspeksi, apakah amalan yang kita lakukan lillahi ta’ala atau karena yang lain. Jika tidak lillahi ta’ala, berarti di hatinya ada sesuatu yang lebih penting dari Sang Pencipta. Nauzubillah

Memang, tak jarang kala melakukan suatu kebaikan, terselip rasa ingin dipuji orang. Memberi sumbangan sedikit saja maunya orang sekampung diberi tahu. Menyantuni anak yatim yang penting bisa selfie menggendong anak yatim saat menyerahkan bingkisan. Bahkan, di sela tahajud pun sempat-sempatnya kirim WA ke grup. Maaf saya tak bisa dihubungi karena sedang tahajud. Walah…siapa pula mau telepon pada dini hari.

Tapi, memang ada orang yang rutin mengirim WA tiap tengah malam. Mereka para ustadz yang mengingatkan umatnya untuk bangun malam, orang tua yang membangunkan anaknya, atau sesama sahabat yang saling mengingatkan. Insya ALLAH mereka barakah dengan HP masing-masing.

Orang seperti bro Aqua, yang sebagian besar waktunya dilakukan untuk silaturahim, menyantuni, dan berbagi, secara kasat mata rasanya telah melewati semua batasan konsep —hati bersih, ikhlas, dan lillahi ta’ala— itu. Demikian juga Ustadz Agus Mustofa yang rutin berbagi ilmu tasawuf modern, juga Pak Budi —entah siapa namanya sebenarnya—yang rela menjual mobilnya untuk modal kerja para penghafal Alqur’an dhuafa. Sementara yang tak kasat mata biarlah menjadi urusan masing-masing dengan Rabb-nya.

Acuan Membersihkan Penyakit Hati

Bagi para pembelajar seperti saya, gaya hidup seperti itu tak gampang ditiru. Sulit diadopsi. Tapi, setidaknya bisa jadi acuan, penyemangat untuk membersihkan penyakit hati.

Di mata saya, orang-orang dengan level keimanan tertentu, dengan derajat kepasrahan tinggi saja yang bisa menjalani pitutur tersebut. Mungkin sedikit berlebihan jika mereka digolongkan sebagai para sufi zaman now, zuhud, yang semua langkahnya mengacu pada kehidupan akhirat. Tapi, setidaknya mereka termasuk manusia langka di zaman orang saling berebut dunia ini. Wallahu a’lam.

Modal salat saja rasanya tak cukup untuk mencapai tingkatan zuhud seperti itu. Ada yang salatnya nggetu (konsentrasi dan berkesinambungan), tapi kikirnya minta ampun, mulutnya tajam, bahkan kejamnya melebihi kumpeni Belanda —sebagaimana sering digambarkan di pentas ludruk. Ritual salat yang dijalani tampaknya belum mampu memunculkan perilaku spiritual yang Qur’ani.

Bisa jadi karena konsep hati bersih, ikhlas, dan lillahi ta’ala itu gerakan mereka mampu memotivasi orang lain untuk berbuat baik. Jamaah umroh gratis bro Aqua meningkat tiap tahun berkat sumbangan para sahabat dermawannya. Termasuk yang nonmuslim. Jamaah umroh the Power of Silaturrahin (POS) I, 35 orang, POS II, 39 orang, dan POS III tahun depan insya ALLAH 50 orang.

Demikian juga yang dilakukan Pak Budi yang rela menjual mobil Hyundai Avega-nya untuk modal jual lontong sayur para penghafal Al-Qur’an dhuafa. Iklan jual mobil itu di-posting Joko Intarto (jto) di WAG Cowas JP pada 3 Mei 2018.

Gerakan Pak Budi itu mendapat sambutan bagus dari para dermawan. Setidaknya, ada empat donatur yang siap membantu tiap bulan. Bahkan, ada yang menyumbang satu unit motor roda tiga untuk jualan lontong sayur. Berlomba berbuat kebaikan insya ALLAH berbuah kesalehan sosial. Semoga kita dibersihkan dari segala penyakit hati. Aamiin.

Salam,
Cakfu.

Penulis adalah wartawan senior di Surabaya. Tulisan ”Gaya Hidup yang Sulit Diadopsi” ini dibuat dalam suasana gembira saat menyambut kelahiran cucu kelimanya.

Baca juga: Akhir 2018 ini Kerugian Garuda Indonesia Diperkirakan Berkurang

Demikian Wejangan Dr. Aqua Dwipayana, ” Gaya Hidup yang Sulit Diadopsi ” melalui WAG KOMPASS – Nusantara. Semoga bermanfaat.

The Power of SILATURAHIM ..
SILATURAHIM Marketing …
#10InspiratorKOMPASSNusantara

by KOMPASS Nusantara

One thought on “Gaya Hidup yang Sulit Diadopsi

  • 2018-11-13 pada 11:09
    Permalink

    Gaya hidup yang sesuai aturan bagi para muslim yang taat mugkin tidaklah selamanya sulit untuk diadopsi …
    Berbekal iman yang cukup dan wawasan insani yang hakiki akan memudahkan seorang muslim mengadopsi gaya hidup yang dimaksudnya penulis diatas …
    Mohon informasinya …
    Apakah konsep dasar penentu keberhasilan seseorang dalam mengadopsi gaya hidup yang sesuai aturan agama bagi para muslim?
    Terimakasih salam kenal …

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call Now Button

1000 Narasumber KONUS! CALL/WA 08557772226 (Idham Azhari)

X