Badai itu adalah pertanda bahwa Seorang Nahkoda akan naik kelas

Badai itu adalah pertanda bahwa Seorang Nahkoda akan naik kelas
Badai itu adalah pertanda bahwa Seorang Nahkoda akan naik kelas

Berikut Pencerahan dari GM Agung Nugroho

Berikut Pencerahan dari GM Agung Nugroho perihal “ Badai itu adalah pertanda bahwa Seorang Nahkoda akan naik kelas “.

GM Agung Nugroho, Kompasser Yogyakarta, Branch Manager Yogya – PT. Putra Sumber Abadi.

Badai itu adalah pertanda bahwa Seorang Nahkoda akan naik kelas

A STORM
IS A SIGN THAT
A SAILOR WILL MOVE TO THE NEXT LEVEL

(Badai itu adalah pertanda bahwa seorang nahkoda akan naik kelas)

Pagi itu saya breakfast di sebuah cafee di Jakarta Selatan, bersama seorang sahabat saya, sebut saja namanya Reyhan, dia bekerja sebagai sebagai Head of Sales Operations untuk Asia Pacific region dan berbasis di Singapore.

Yang saya kagum dari Reyhan adalah prestasinya di kariernya dia yang selalu cemerlang yang membuat dia selalu mendapatkan promosi jabatan ke posisi yang lebih tinggi setiap tiga atau empat tahun.

Sementara saya mengenal begitu banyak teman yang juga bekerja keras tetapi kariernya jalan di tempat.

Waktu saya menanyakan itu ke Reyhan, dia bilang,

“My father always taught me how to work hard and smart”

Kita harus melakukan kedua-duanya.
Bekerja keras secara cerdas.

Jadi waktu saya di kelas 2 dan 3 SMA, saya tidak membabi buta bekerja keras dan belajar semua pelajaran.

Saya akan memilih mata pelajaran yang penting yang akan membuat saya bisa mendapatkan beasiswa untuk ke Universitas terbaik.

Jadi saya akan belajar keras dan fokus ke mata pelajaran tersebut, sambil tetap belajar (tapi dalam jumlah waktu yang minimum) agar tetap lulus di semua mata pelajaran.

Akibatnya apa?

Saya tetap lulus dari SMA saya, waktu lulus SMA saya tidak akan dapat rangking terbaik (karena memang ada beberapa mata pelajaran yang nilai saya hanya pas-pasan).

tetapi nilai-nilai saya di beberapa mata pelajaran sangat tinggi melebihi yang lain (karena memang saya belajar jauh lebih banyak daripada yang lain dalam mata pelajaran tersebut)

Dan mata pelajaran tersebut adalah mata pelajaran yang paling mempengaruhi masa depan saya, karena itu saya diterima di universitas terbaik dan mendapatkan beasiswa!

That’s the strayegy!
?

Saya pun bertanya lagi,
“Terus bagaimana menerapkan hal itu dalam pekerjaan kita?”

Reyhand meneguk minumannya dan meneruskan.

“Dalam sebuah pekerjaan apapun yang kita tangani, kita juga punya beberapa task atau action yang harus kita jalankan.

Saya juga harus mengerti task apa yang akan lebih mempengaruhi performance kita secara keseluruhan.

Biasanya dari seluruh task yang kita punya, ada 20% tasks yang pada akhirnya akan mempengaruhi 80% dari performance kita.

Berarti kita harus berhati hati memilih, apa sih yang 80% itu, dan kemudian kita fokus di sana dan benar benar bekerja keras di situ, nah yang 20% kita tetap kerjakan dengan minimum effort asalkan kita mencapai hasil yang diinginkan (tanpa melampauinya).

Dengan cara itu, nanti performance kita akan melebihi yang lain!

Itulah yang saya namakan work hard in a smart way!

Reyhan meminta maaf sebentar karena ada telpon yang harus dia angkat, seorang anak buahnya di Australia menelponnya.

Saya pun berfikir benar juga ya.
Banyak sekali motivator yang bilang
“Work smart, not hard”.

Well, biasanya mereka ini adalah motivator yang belum pernah bekerja di sebuah perusahaan besar, atau belum pernah mencapai posisi tinggi (level direksi) di sana.

Karena memang untuk mencapai prestasi yang bagus.

We need to work hard and smart.

Kita harus bekerja keras secara cerdas!

Dan dengan cara itulah Reyhand bersekolah, kuliah , bekerja dan mengembangkan kariernya dan sekarang dia berhasil menduduki sebuah jabatan tinggi di Asia Pacific!

Waktu Reyhand kembali saya pun bertanya lagi.

“Saat anda bercerita tentang karier anda, semuanya terdengar seperti mudah?

Apakah memang semudah itu?

Bagaimana bertransisi dari sebuah jabatan ke jabatan lain yang lebih tinggi?”

Pagi itu saya bertanya,

“Bukankah pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain itu beresiko?
Bagaimana sih Reyhand menghandle resiko itu?”

?

Reyhan meminum sparkling water “Reflections” nya dan tersenyum,

“Tentu saja sangat beresiko! ”

Reyhan meneruskan, katanya ini beberapa prinsip yang harus kita mengerti :

1. Tidak ada perusahaan yang mempromosikan anda ke jabatan lebih tinggi dengan gaji yang lebih mahal,

untuk menyuruh kita mengerjakan pekerjaan yang lebih mudah

2. Semakin tinggi gajinya berarti :

a. semakin sulit pekerjaan yang harus dilakukan.

b. itu berarti semakin berat problem yang dimiliki perusahaan itu (yang harus anda selesaikan)

?

3. Kalau anda menempati posisi baru, anda akan memasuki lorong gelap yang beresiko, anda tidak tahu apakah anda akan berhasil atau gagal.

?

4. Kompetensi yang anda punya sama sekali tidak menjamin bahwa anda akan berhasil di perusahaan yang baru.

banyak hal lain yang berhubungan dengan :
– working style,
– leadership style.
– process, culture
dan way of working yang akan lebih menentukan apakah anda berhasil atau tidak

??

Reyhan menjelaskan lagi…

Seperti sebuah club yang tahun lalu menjadi juara di Divisi Satu, dan sekarang naik ke Premier League.

Apakah club tersebut pasti akan berjaya di Premier League?
Belum tentu kan?

Saya mengangguk-angguk dan setuju dengan pendapat Reyhan.

“Wah berat juga ya?

Kalau memang seberat itu, kenapa Reyhan masih tetap mau melakukan itu?”

“Because my friend, saya suka challenge.
Dan challenge itu yang membuat saya maju.

Saya menolak untuk hidup seperti yang lain yang selalu bekerja standard-standard saja, dengan kenaikan gaji minimum setiap tahun, dan mengharapkan boss berbelas kasih untuk mempromosikan saya.

No, I dont want that.

Saya mau mengontrol hidup saya sendiri, saya mau mengendalikan karier saya sendiri.

Maka saya akan bekerja keras, lebih keras dari yang lain.

Saya juga belajar sendiri sebanyak-banyaknya. Saya akan bersikap profesional, perform dan berkontribusi semaksimal mungkin ke perusahaan.

Berarti setelah 3-4 tahun saya akan berhak mendapatkan promosi.

I work much harder than anyone else.

I deserve to get more reward and recognitions than anyone else. Fair, kan?”

Waitress mengantarkan Egg Benedicts yang kami pesan, kami pun mulai makan pelan-pelan sambil tetap ngobrol.

“Reyhand kan baru saja dipromosi 6 bulan yang lalu.

Situasi apa yang harus Reyhan tangani saat ini?”

Reyhan menjelaskan …
Pada saat terganti pergantian leadership, itu berarti bahwa ada masalah besar yang harus kita selesaikan.

Kalau enggak, ya ngapain juga leadernya diganti?

Jadi, bersiap-siaplah, pada saat anda dipromosikan ke jabatan baru, atau pada saat anda pindah ke perusahaan baru, pasti akan terjadi krisis.

Anda harus bersiap-siap untuk itu. Jangan pernah berharap bahwa anda dipromosi atau pindah ke perusahaan lain, dengan gaji yang lebih besar, dan kemudian situasinya semua baik-baik saja?

It never happen to me.

Dan seandainya pun situasinya selalu baik-baik saja, ngapain juga mereka mempromosikan atau mendatangkan anda dan menggaji anda lebih tinggi?

Be prepared for a crisis!

Reyhan sudah tahu akan terjadi krisis?

Dan tetap saja dia berani melangkah ke sana?
Bukannya krisis itu berat untuk dijalani?

Mengapa dia selalu memutuskan untuk menghadapi krisis dengan gagah berani , dan bukannya malah mencari tempatnya yang aman dan nyaman?

Reyhand
meneruskan :
“Saya percaya pada tiga hal.

1.
bahwa
kita akan
selalu dihadapkan pada krisis yang sesuai dengan level kita.

Tidak akan pernah kita dihadapkan pada krisis yang levelnya lebih tinggi dari level kita.

Jadi kalau saya dihadapkan pada sebuah krisis yang berat, saya akan bersyukur.

berarti level saya sudah lebih tinggi.

2.
bahwa
krisis itu pertanda
bahwa kita akan naik kelas ke level yang lebih tinggi.

Berarti kalau ada krisis itu pertanda baik bahwa kita akan naik kelas lagi.
This is great!

3.
saya
selalu percaya
bahwa nahkoda yang hebat selalu ditempa di tengah badai yang hebat.
kalau saya takut menghadapi badai , berarti saya akan menjadi nahkoda yang biasa-biasa.

Saya ingin menjadi nahkoda hebat!

Keren juga ya?

Well, saya gak tahu, itu keren atau nekat.

Tetapi kenyataannya dengan prinsip itu Reyhan sukses mengembangkan kariernya.

Reyhan menceritakan bahwa perusahaannya sekarang sedang mengalami krisis.

Mereka adalah market leader yang akhir-akhir ini menghadapi kompetisi yang sangat keras dari challenger mereka, akibatnya market mereka pun tergerus.

Growth mereka mulai decline meskipun secara market share mereka masih nomer satu.

Tetapi mereka harus sangat berhati hati dan segera berusaha agar growth mereka kembali, kalau tidak, mereka akan makin terpuruk dihajar oleh kompetitor mereka.

“Are you sure , you will be able to survive from this crisis?”

“Yes, we will survive.
This is not the first time I have been in this situation.

If we are committed and stay strong together , we will surface again!”

Wah, optimis banget ya?

Dan karena ini bukan pertama kalinya Reyhan menangani sebuah krisis.

saya pun bertanya, bagaimana caranya menghadapi sebuah krisis?

Reyhan pun sharing lima tips di bawah ini

1. DO YOUR BEST TO AVOID CRISIS

Pertama kali, the best way to manage the crisis is to avoid it.

Do your best.
Preventing is still much better than curing a problem.

Make sure everybody in the organization understand this and do their best to avoid it.

2. LEARN and MAKE SURE YOU UNDERSTAND THE CRISIS MANAGEMENT PROCESS

Kedua, setiap perusahaan mempunyai proses tersendiri untuk memanage crisis sesuai dengan budaya kerja, working style dan compliance mereka.

Pelajari prosesnya supaya semua orang mengerti apa yang harus dijalankan.

3. IF THE CRISIS STILL COME, RELAX , IT CAN HAPPEN TO ANYONE ANYTIME

Setelah anda mengerjakan semua persiapan, dan krisis masih terjadi, relax, itu bisa terjadi pada semua orang!

Jaman sekarang , bisnis kita begitu penuh dengan ketidakpastian, kerancuan dan kerumitan,
kadangkala memang kita tidak bisa memprediksi semua resiko.

Relax, jangan blaming sesama team members, jangan komplain , jangan mengeluh, jangan menyalahkan.

Fokus pada langkah berikutnya.

4. FOCUS ON HOW TO GET OUT OF THE CRISIS

Fokuskan semua usaha dan kerja keras seluruh team untuk menyelesaikan masalah dari segala aspek.

Perhatikan dan analisa lagi semua resiko yang masih mungkin terjadi dan lakukan semua yang diperlukan untuk mengamankan resiko tersebut.

5. USE YOUR NETWORK, GET HELP

Hubungi kolega anda di perusahaan lain atau di industri lain.

Besar kemungkinan akan ada yang pernah mengalami krisis sejenis. Tanyakan apa yang mereka lakukan pada saat mereka menyelesaikan masalah tersebut.

6. EVALUATE THE LEARNING POINTS

Setelah krisis berakhir, akan selalu ada hal-hal yang bisa dipelajari.

Diskusikan dengan team apa yang bisa dipelajari dan bagaimana tim anda bisa memperbaiki team anda di masa depan.

Jadi ingat ya, ini adalah enam tips yang anda bisa praktekkan kalau anda harus me-manage sebuah crisis ….

1. DO YOUR BEST TO AVOID CRISIS
2. LEARN and MAKE SURE YOU UNDERSTAND THE CRISIS MANAGEMENT PROCESS
3. IF THE CRISIS STILL COME, RELAX , IT CAN HAPPEN TO ANYONE ANYTIME
4. FOCUS ON HOW TO GET OUT OF THE CRISIS
5. USE YOUR NETWORK, GET HELP
6. EVALUATE THE LEARNING POINTS

Dan terutama, kalau anda sedang menghadapi sebuah krisis, bersyukurlah, karena itu berarti anda akan naik kelas, dan itu berarti anda sudah berada di jalur yang benar untuk menjadi seorang nahkoda handal!

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Demikian Pencerahan dari GM Agung Nugroho perihal “ Badai itu adalah pertanda bahwa Seorang Nahkoda akan naik kelas “. Semoga bermanfaat.

Baca juga: Pencerahan dari GM Agung Nugroho

by KOMPASS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call Now Button

1000 Narasumber KONUS! CALL/WA 08557772226 (Idham Azhari)

X