Bacalah Ilmu Besar dari Mayjen Besar

Bacalah Ilmu Besar dari Mayjen Besar
Bacalah Ilmu Besar dari Mayjen Besar

Wejangan Dr. Aqua Dwipayana

Berikut Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 3 April 2018 pukul 19.37, ” Bacalah Ilmu Besar dari Mayjen Besar ” melalui WAG KOMPASS – Nusantara (WhatsApp Group Komunitas Para Sales Super – Nusantara).

Dr. Aqua Dwipayana, Kompasser Yogyakarta, Motivator Nasional, Konsultan Komunikasi, Pengamat Militer dan Kepolisian RI, dan Penulis buku Best Seller “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi”.

Bacalah Ilmu Besar dari Mayjen Besar

Oleh: Mohammad Khakim*

“Bacalah!” kata Jibril kepada Muhammad.
“Aku tidak bisa membaca.” (HR Bukhari no 3). Muhammad terus mengatakan seperti itu karena beliau ‘ummi’ (tidak bisa baca tulis). Sampai akhirnya beliau bisa membaca karena kuasa Allah dan setelah menyimak dengan seksama kata-kata Jibril.

Sang Ruhul Qudus menyampaikan wahyu, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.” (Surah Al Alaq 1-5)

Itulah peristiwa malam Ramadan, 10 Agustus 610 Masehi, pada usia ke-40, Kanjeng Nabi Muhammad mendapat amanah kerasulan di Gua Hira. Wahyu pertama adalah perintah membaca.

Jauh sebelum itu, pada penciptaan manusia, Allah mengajari Adam as seluruh nama benda.

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Dia mengemukakannya kepada para malaikat dan berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!” (Al-Baqarah : 31)

Dalam tafsir Jalalain, nama-nama benda yang diajarkan kepada Nabi Adam as dilakukan Allah swt dengan cara memasukkan ke dalam kalbunya pengetahuan tentang benda-benda itu. Meliputi benda-benda mati dan makhluk-makhluk berakal.

Imbauan Mulia Mayjen Besar

Sangatlah mulia imbauan Mayjen TNI Besar Harto yang mengajak anak bangsa untuk membaca, menganalisis benda-benda di sekitar kita. “Bacalah! Analisislah!” Seperti yang tertuang dalam tulisannya “Tingkatkan Kemampuan Membaca Anak Bangsa”, yang dibagikan motivator nasional Dr Aqua Dwipayana.

Membaca bukan sekadar membaca buku, menurut Pangdam III/Siliwangi tersebut. Bacalah pohon kelapa, pohoh bambu, lingkunganmu. “Membaca di sini adalah membiasakan kemampuan seorang anak untuk mampu mengurai dan menganalisis sesuatu yang diamatinya,” tulisnya.

Hal itu selaras sekali dengan firman Allah ta’ala dalam QS Al-Ghasiyah: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan (ayat 17). Dan langit bagaimana ia ditinggikan? (18). Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (19).

Menurut sejarah, dari pengamatan manusia terhadap alam semesta, muncullah ilmu-ilmu pengetahuan. Seperti astronomi, geografi, geologi, biologi, fisika, kimia, kedokteran, dan berbagai ilmu pengetahuan yang ada saat ini.

Bagaimana seorang Issac Newton mengamati apel yang jatuh di depannya saat dia beristirahat di bawah pohon itu. Mengapa jatuhnya ke bawah. Dari fenomena itu, Newton menemukan gaya gravitasi.

Gravitasi adalah gaya tarik bumi karena pengaruh medan magnet. Gravitasi yang besar akan menyebabkan sebuah benda akan terasa berat. Sebaliknya, gaya gravitasi yang kecil akan mengakibatkan benda lebih ringan.

Semakin jauh ke angkasa, gaya gravitasi bumi semakin kecil. Lihatlah astronot di stasiun luar angkasa yang tubuhnya melayang-layang di ruangannya. Di bulan, gravitasinya juga lebih kecil dari bumi sehingga astronot berjalan bagai ‘terbang’. Ilmu pengetahuan!

Ilmu Harus dengan Iman

Karena itulah, Allah memerintahkan manusia agar mengamati dan meneliti benda-benda dan alam di sekitar kita. Agar kita berpikir. Otak kita jalan. Analisis kita jalan. Agar manusia memikirkan keberadaan alam semesta.
Selanjutnya target Allah adalah agar muncul iman. Iman itu sesungguhnya didasari logika. Karena alam semesta ini penuh dengan tanda kekuasaan-Nya.

Kalau logika otak tidak ‘nutut’, kita harus pakai logika keimanan. Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang dhaif (lemah).
Agar jangan sampai terpeleset seperti Stephen Hawking, fisikawan terkemuka dunia yang baru saja meninggal dunia pada 14 Maret 2018.

Dalam bukunya, “The Grand Design”, fisikawan Universitas Cambridge, Inggris, itu mengatakan, Tuhan tak ada hubungannya dengan penciptaan alam semesta.

Menurut dia, karena ada hukum alam, seperti gravitasi, alam semesta bisa mencipta dirinya sendiri. Dan bahwa proses terciptanya alam semesta menurut teori Big Bang (Dentuman Besar) adalah hasil yang tak terelakkan dari proses fisika.

Padahal, alam semesta ini adalah skenario Allah swt. Firman-Nya: “Allah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah itu sesuatu kepincangan (sesuatu yang tidak seimbang); maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu menampakkan sesuatu keretakan?. Maka kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan
kembali kepadamu dengan tidak menemukan suatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan lemah dan payah (QS.Al-Mulk 67:3).

Seperti disampaikan di awal tullisan ini, Allah sudah mengajarkan tentang benda-benda di alam ini sejak penciptaan Adam as. Allah memerintahkan Muhammad saw membaca melalui wahyu pertama-Nya. Targetnya agar manusia beriman kepada-Nya.

“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS An-Nahl: 11).

Orang Berilmu Diangkat Derajatnya

Mulia sekali ajakan Mayjen Besar Harto agar anak bangsa membaca, menganalis. Dengan kemampuan membaca akan menumbuhkan ide kreatif, mampu menemukan masalah dan solusinya, katanya. Akan memunculkan ide-ide dan gagasan-gagasan baru untuk dikembangkan.

Semua itu akan mampu mengangkat derajat manusia itu sendiri. Allah swt memberi jaminan kepada orang beriman dan berilmu pengetahuan.

Hal itu sesuai firman-Nya. ”Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Surat Mujadilah:  11).

Makna ayat di atas, menurut Syaikh Ahmad al-Musthafa al-Maraghi, Allah swt akan meninggikan orang-orang yang diberikan ilmu di atas imannya kepada Allah swt dengan banyak tingkatan (derajat). Atau, meninggikan orang-orang yang berilmu dari kalangan orang-orang beriman secara khusus dengan banyak tingkatan karamah dan ketinggian martabat.

Karena itu, janganlah berhenti membaca selama hayat masih dikandung badan. Bacalah…! Bacalah…!

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Koran Harian Duta Masyarakat, korannya warga Nahdlatul Ulama (NU), mantan wartawan Jawa Pos.

Demikian Wejangan Dr. Aqua Dwipayana 3 April 2018 pukul 19.37, ” Bacalah Ilmu Besar dari Mayjen Besar ” melalui WAG KOMPASS – Nusantara. Semoga bermanfaat.

Baca juga: Wow, Pangdam III Siliwangi Tentara yang Puitis

The Power of SILATURAHIM!

by KOMPASS Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call Now Button

1000 Narasumber KONUS! CALL/WA 08557772226 (Idham Azhari)

X